Darmasiswa & promosi Pariwisata Bali

April 16, 2008 by dwicahaya

Program Darmasiswa RI dan Promosi Pariwisata Bali
Kadek Dwi Cahaya Putra, S.Pd., M.Sc. *

Darmasiswa (Indonesian Scholarship) adalah program pemberian beasiswa oleh pemerintah RI bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa & budaya di perguruan tinggi di seluruh daerah di Indonesia selama 1 tahun. Bali sebagai salah provinsi dan daerah tujuan wisata utama Indonesia merupakan tempat pilihan utama peserta Darmasiswa dalam program tersebut. Berkaitan dengan upaya pemerintah untuk membangun reputasi Indonesia khususnya Bali di dunia internasional khususnya dalam menggalakan pariwisata, program ini sangat bermanfaat dalam mengkomunikasikan kondisi Bali secara nyata dalam mendukung kegiatan promosi pariwisata. Tantangan industri pariwisata adalah bagaimana menyiapkan suatu daerah dan objek tujuan wisata (internal) yang memadai dan mengkomunikasikannya sedemikian rupa ke dunia internasional (external) sehingga mereka menjadi tertarik dan datang ke Bali.

Berbicara mengenai reputasi (reputation) suatu bangsa atau daerah tujuan wisata tentu tidak bisa dilepas dari identitas (identity) dan citra (image). Identitas adalah what (how) we are (have) dan citra adalah bagaimana kita ingin dilihat oleh pihak oleh pihak ketiga yang dibangun melalui kegiatan komunikasi pemasaran atau lebih dikenal dengan promosi. Reputasi terbentuk dari penggabungan antara identitas dan citra. Identitas Bali adalah daerah tujuan wisata dengan pemandangan alam yang indah, penduduk yang ramah tamah, dan budaya yang unik dimana hal tersebut coba di-citrakan melalui berbagai kegiatan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Reputasi Bali akan terbentuk dengan baik apabila masyarakat luar sudah datang ke Bali dan melihat serta mengalami langsung seluruh identitas bangsa kita yang sudah di-citrakan melalui berbagai kegiatan promosi. Informasi-informasi yang tidak benar tentang Bali yang selama ini menyebar di seluruh dunia seperti serangan teroris, kerusuhan dan lain-lain akan segera termentahkan manakala masyarakat internasional sudah datang langsung ke Bali dan membuktikan bahwa Bali sudah aman dan berbenah ke arah yang lebih baik.

Darmasiswa pada dasarnya adalah sebuah strategi diplomasi internasional bertujuan untuk membangun reputasi positif Indonesia di dunia internasional dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat asing untuk lebih mengenal Indonesia melalui pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Sampai sekarang program yang digulirkan sejak tahun 1974 ini telah berhasil menarik minat 1857 mahasiswa asing dari 77 negara dan tahun ini diikuti oleh 548 mahasiswa asing dari 62 negara. Bali sendiri menerima 90 orang yang menyebar di Politeknik Negeri Bali (12 Orang), Universitas Udayana (13 Orang), Undiksha (4 Orang) , ISI Denpasar (57 Orang) dan IKIP Saraswati Tabanan (4 Orang).

Melihat jumlah mahasiswa asing peserta program yang cukup banyak dan sangat beragamnya asal negara mereka tentunya akan sangat bermanfaat sebagai upaya memberikan kesempatan melihat langsung keadaan Bali kepada semakin banyak masyarakat luar dan dari beragam negara. Kedatangan dan tinggalnya mereka di Bali tentunya sangat diharapkan akan menimbulkan kesan yang mendalam terhadap keadaan Bali yang sebenarnya. Mereka diharapkan bisa menikmati seluruh kekayaan dan pesona alam yang luar biasa, keaneka ragaman budaya dan adat istiadat, penduduk yang ramah tamah dan ragam bahasa daerah selain bahasa Indonesia. Dengan identitas-identitas tersebut di atas reputasi Bali di dunia internasional yang terutama sekali masih dikaitkan dengan aktivitas teroris tentunya secara perlahan-lahan bisa dihilangkan dan digantikan dengan pengalaman-pengalaman selama mereka tinggal di Bali. Pada akhirnya kepulangan mereka ke negara masing-masing akan membawa cerita tersendiri atau apa yang disebut dengan ‘mouth to mouth promotion’ dimana jenis promosi seperti ini biasanya sangat efektif dan lebih terpercaya karena bersumber dari orang-orang terpercaya yang datang langsung dan menyaksikan serta terlibat langsung dalam adat istiadat dan budaya Bali. Menyambut Tahun Kunjungan Wisata 2008 program ini bisa sebagai alternatif salah satu strategi promosi pariwisata yang efektif dalam meningkatkan minat wisatawan untuk mengunjungi Bali dan Indonesia pada umunya.

* English and Public Relations Instructor
also presently Heading the Darmasiswa Program
The Business Administration Department
Bali State Polytechnic, Bali, Indonesia.
(0361) 7986973, 0852 378 23698
dwicahaya_putra@yahoo.com

Kasus Perampokan dengan Kekerasan di Ubud: Krisis dan Tantangan bagi Citra Pariwisata Bali

April 16, 2008 by dwicahaya

Kasus Perampokan dengan Kekerasan di Ubud:
Krisis dan Tantangan bagi Citra Pariwisata Bali
Kadek Dwi Cahaya Putra, S.Pd., M.Sc.*

Citra pariwisata Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya sedikit tercoreng. Bukan karena serangan teroris, bencana alam, ketidakstabilan kondisi politik ataupun penyakit menular tapi karena tindakan kriminal yang dilakukan oleh oknum warga negara Indonesia terhadap warga Negara asing (wisatawan) yaitu perampokan dengan pemberatan/penganaiayaan. Peristiwa ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah Bali karena tentu saja sangat mencoreng citra pariwisata Bali di mata dunia internasional khususnya asia yaitu Korea Selatan negara asal para korban. Per Oktober 2006, Korea Selatan menempati urutan ke empat kedatangan langsung ke Bali dengan 8.986 wisatawan setelah Jepang, Australia dan Taiwan (Departemen Kehakiman Bali). Selain sudah beberapa kali terjadi, perampokan yang disertai dengan tindakan kekerasan seperti ini juga terjadi pada saat Indonesia khususnya Bali sedang gencar-gencarnya melakukan serangkaian promosi pariwisata melalui program Bali Recovery. Sungguh sebuah ironi karena pada saat Bali sedang berusaha membangun sebuah citra baru di mata dunia internasional dengan tag line Bali is my life justru citra Bali menjadi tercoreng dengan berita perampokan dengan penganaiayaan yang menimpa sepasang wisatawan asal Korea tersebut dan juga terjadi di salah satu ikon pariwisata Bali yaitu Ubud. Tag Line Bali is my life yang sangat menonjolkan ‘kelebihan’ masyarakat Bali sebagai sebuah individu yang berjiwa seni, kreatif, ramah, social, berbakat, murah senyum, baik hati
dan ‘apa adanya’ justru sedikit terganggu oleh tindakan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Industri pariwisata selain merupakan salah satu industri terbesar dengan perkembangan yang menakjubkan akan tetapi terbukti sangat rentan terhadap isu ataupun krisis. Industri Pariwisata sangat menuntut adanya jaminan akan keamanan dan keselamatan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti gangguan kesehatan akibat penyakit, tindakan kriminal, serangan teroris dan bencana alam. Oleh sebab itu, isu yang berkaitan dengan hal tersebut sangat mudah mengganggu pariwisata. Tsunami Asia yang melanda Aceh tahun 2005, ribuan pesanan kamar dan penerbangan langsung ke Bali dibatalkan karena adanya isu bahwa Bali juga terkena tsunami. Padahal Bali berjarak sekitar 3 jam dengan pesawat terbang dari Aceh sebagai pusat tsunami. Berita-berita yang terus menerus akan terjadinya tindakan kriminal di suatu daerah tujuan wisata tentunya sangat mempengaruhi niat wisatawan untuk berkunjung tentunya karena takut keselamatan dirinya terancam.

Bagi praktisi komunikasi, khususnya Public Relations, peristiwa atau kejadian yang tidak diinginkan seperti kasus perampokan dengan kekerasan tersebut di atas disebut ‘krisis’. “A crisis is an event, revelation, allegation or set of circumstances which threatens the integrity, reputation, or survival of an individual or organization” (krisis adalah suatu peristiwa, rahasia yang terungkap, pernyataan mengejutkan atau suatu rangkaian keadaan yang mengancam kesatuan, reputasi atau keberlangsungan suatu individu ataupun organisasi). Dalam konteks industri pariwisata, Cassedy (1991) mendifinisikan krisis sebagai sebuah bencana, baik alami maupun akibat perbuatan manusia, yang bisa mengancam industri pariwisata suatu daerah tujuan secara menyeluruh ”disaster, whether natural or manmade, that has the potential to totally disrupt the tourism industry”(Handerson, 1999). Bali dalam perjalannya sebagai sebuah daerah tujuan wisata internasional sepertinya tidak habis-habis dihantam krisis baik yang ringan maupun berat seperti Perang Teluk 1990, Kolera 1995, Tragedy Politik 1998, Perang Antar Etnis 1999, Tragedy WTC 2001, Bom Bali 2001&2005, SARS dan Flu Burung 2003 dan terakhir adalah Tsunami 2005. Dunia pariwisata Bali selama sepuluh tahun terakhir telah identik dengan kata ‘krisis’ atau pariwisata Bali dalam ‘krisis’. Peristiwa perampokan dengan penganaiayaan tersebut menjadi ‘krisis’ tidak hanya bagi pariwisata Bali umumnya tetapi juga bagi hotel tempat perampokan terjadi dan pelaku pariwisata daerah Ubud khususnya hotel dan atau villa yang citranya sebagai daerah seni dan aman menjadi terancam.

Sebuah ‘krisis’ disatu sisi selain tentunya mengancam ataupun merusak citra sebuah organisasi ataupun daerah tujuan wisata sebenarnya juga merupakan tantangan yang apabila bisa diatasi dengan baik malah akan mampu mendongkrak citra sebuah daerah pariwisata. Apabila krisis melanda sebuah organisasi atau daerah tujuan wisata, sebenarnya yang dinilai oleh publik tidak hanya keberadaan krisis tersebut tersendiri tapi apakah atau bagaimana organisasi ataupun daerah tujuan wisata tersebut mampu mengatasi krisis tersebut. Pada saat Bom Bali I tahun 2001, sebagai contoh, pariwisata Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi sangat terpuruk dalam waktu cukup lama. Melalui kerja keras dan kerja sama berbagai pihak, secara perlahan namun pasti pemerintah Indonesia dan Bali mampu menangkap para pelaku, menata kembali dan mengembalikan citra pariwisata Bali di mata dunia internasional. Perlahan-lahan kepercayaan wisatawan asing mulai bisa dipulihkan dan jumlah kunjunganpun menjadi meningkat pasti. Bali dinilai oleh dunia internasional mampu menangani ‘krisis’ akibat serangan teroris tersebut. Pada kasus perampokan dengan tindak penganaiayaan di Ubud tersebut, apabila pihak pemerintah dalam hal ini pihak kepolisian, dengan dukungan berbagai pihak, mampu menarik simpati publik khususnya para wisatawan dengan melakukan beberapa hal seperti menangkap para pelaku tersebut dan membawa ke jalur hukum dengan segera dan memberikan perhatian yang sepantasnya kepada para korban, maka bukan tidak mungkin kepercayaan pihak asing terhadap citra pariwisata Bali khususnya dalam bidang keamanan bisa dipulihkan kembali. Kepolisian Daerah Bali sebagai pihak yang berwenang untuk menangkap oknum pelaku perampokan telah berjanji untuk menangkap pelaku dalam waktu kurang dari satu bulan (Bali Post, 2 Januari 2007).

Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana menjaga supaya kejadian/krisis tersebut tidak terulang lagi. Krisis yang terjadi berulang-ulang tentunya akan merusak kepercayaan dari para wisatawan yang telah susah payah dipulihkan kembali. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan langkah-langkah yang nyata, tepat dan cepat untuk mencegah hal-hal yang sama bisa terulang kembali. Beberapa langkah tepat telah diambil pihak manajemen villa tempat lokasi kejadian yaitu dengan menambahkan jumlah CCTV sesuai dengan standar keamanan dan menjalin kerja sama dengan desa adat setempat dalam bentuk mengerahkan personil pengamanan adat yaitu Pecalang. Hal ini menunjukkan keseriusan pihak-pihak terkait untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali yang nantinya diharapkan mampu memulihkan kepercayaan wisatawan. Dalam kasus pariwisata Bali secara umum, luka mendalam akibat tragedi Bom Bali 1 tahun 2001 yang sudah berhasil diatasi dengan sangat baik dan terbukti dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bali harus terulang kembali pada tahun 2005 atau lebih dikenal dengan Bom Bali 2. Citra pariwisata dan kepercayaan dunia internasional terhadap Bali yang susah payah dipulihkan kembali harus jatuh terpuruk kembali akibat terulangnya kejadian yang sama yaitu serangan teroris.

Salah satu upaya untuk meminimalkan akibat buruk dari adanya isu dan atau krisis adalah dengan mempersiapkan diri dengan baik atau lebih dikenal dengan manajemen isu/krisis. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan apabila suatu organisasi atau daerah tujuan wisata mengalami krisis yaitu:

1) Prinsip mendasar saat krisis adalah dengan mengatakan kejadian yang sebenarnya (tell the truth). Publik jauh lebih menghargai kejujuran dari suatu organisasi akan suatu keadaan atau kejadian dari pada mengungkapkan kebohongan yang cepat atau lambat pasti terungkap yang bisa berakibat buruk terhadap citra organisasi untuk jangka panjang. Yang terpenting kedepannya adalah pihak organisasi atau daerah tujuan wisata harus melakukan tindakan konkret agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

2) Penunjukkan juru bicara (spokeperson). Seorang juru bicara harus ditunjuk dengan segera sebagai nara sumber terutama ketika media mulai terlibat. Biasanya yang ditunjuk adalah pemimpin tertinggi perusahaan selain tentunya Public Relations. Semakin tinggi jabatan/kedudukan juru bicara tersebut di organisasi semakin baik citra yang terbentuk karena itu berarti organisasi sangat serius menangani krisis tersebut. Pastikan juru bicara tersebut mengetahui dan memahami seluruh data dan informasi yang dibutuhkan serta tahu bagaimana menyampaikannya ke publik.

3) Berbesar hati untuk meminta maaf (apology). Suatu keadaan tidak diinginkan yang terjadi dalam ruang lingkup sebuah organisasi baik disengaja maupun tidak secara tidak langsung merupakan kesalahan organisasi tersebut. Permintaan Maaf yang dilakukan lebih awal jauh lebih dihargai oleh publik dari pada dilakukan setelah periode waktu tertentu. Akan tetapi, permintaan maaf ini hendaknya diikuti dengan pernyataan bahwa peristiwa yang sama dipastikan tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang. Pihak villa dimana perampokan terjadi telah melakukan langkah yang tepat dan simpatik dengan meminta maaf baik secara langsung kepada korban dan juga di media massa. Langkah yang sama juga telah dilakukan beberapa pejabat penting di Bali yang secara langsung meminta maaf dan menjenguk korban di rumah sakit (Jawa Pos, Sabtu 30 Dsember 2006).

4) Bertanggung jawab terhadap kejadian dan segala akibat yang ditimbulkan (Responsibility). Hal yang dituntut oleh publik khususnya yang terkena dampak langsung dari suatu kejadian yang tidak diinginkan atau krisis tersebut adalah tanggung jawab dalam berbagai bentuk. Tanggung jawab yang sesuai tentunya bisa sedikit ‘mengurangi’ beban moral maupun materiil dari si korban. Jangan sampai suatu ‘organisasi’ dicap lepas tanggung jawab atau perusahaan yang tidak bertanggung jawab yang tentunya merusak citra psoitif perusahaan tersebut.

5) Penyediaan sumber informasi bagi publik seperti nomor telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu dan website dengan informasi yang terus menerus di up-date (source of information). Saat krisis berlangsung biasanya terjadi lonjakan permintaan akan data dan informasi mengenai krisis tersebut sehingga pihak organisasi harus selalu siap menyiapkan data dan informasi terbaru yang dibutuhkan. Ketersediaan data dan informasi yang dibutuhkan akan membuat pihak-pihak terkait menjadi lebih tenang dan dapat dinilai sejauh mana tanggung jawab suatu organisasi atau daerah tujuan wisata terhadap suatu krisis.

6) Koordinasi dan komunikasi yang efektif ke seluruh pihak (Coordination and Communication). Suatu organisasi perlu mengkomunikasikan keadaan yang sebenarnya dan langkah-langkah yang sudah dan akan diambil kepada seluruh pihak terkait melalui media yang sesuai. Komunikasi yang terkoordinasi dan terpusat sangatlah penting agar informasi yang disampaikan tidak simpang siur yang malah bisa membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Tindakan-tindakan tersebut di atas harus dilakukan secara cepat dan tepat dan harus dikomunikasikan dengan baik. Keterlambatan dalam mengambil suatu tindakan maupun penyampaian informasi ke publik akan menimbulkan persepsi negatif bahwa suatu organisasi atau daerah tujuan wisata lambat dan tidak serius dalam menangani suatu kejadian/krisis bahwa bisa dikatakan tidak bertanggung jawab. Hal yang sama juga bisa mengakibatkan terjadinya kesimpangsiuran (miscommunication) terhadap suatu fakta yang akhirnya bisa menimbulkan kekacauan dan menyebabkan citra suatu organisasi atau daerah tujuan wisata menjadi semakin tidak baik. Perlu juga diperhatikan peranan pihak media (wartawan) yang sangat penting bagi penyebaran suatu informasi. Dalam terjadinya suatu krisis, media di satu sisi bisa menjadi ‘penyelamat’ apabila terjalin kerjasama yang baik dalam penyebaran suatu informasi yang positif dan menguntungkan tetapi disatu sisi bisa juga menjadi ancaman serius apabila berita yang dimuat merupakan sisi negatif dari suatu organisasi. “Bad News is Good News”. Pada saat terjadi krisis atau kejadian tidak diinginkan, pihak media biasanya cukup gencar dalam melakukan peliputan. Oleh karena itu, pihak organisasi tempat ‘krisis’ berlangsung harus berupaya melakukan tindakan-tindakan positif untuk diliput oleh media yang bisa menghilangkan citra negatif dan memunculkan kesan positif akibat suatu krisis. Oleh sebab itu, suatu organisasi harus bekerja sama dengan media untuk penyebaran informasi terkait kepada publik.

Selain sebagai tantangan, suatu krisis sebenarnya juga bisa dianggap sebagai
‘peluang’ ( good chance) bagi suatu organisasi atau daerah tujuan wisata untuk lebih dikenal publik. Hal ini tentunya dengan catatan bahwa pihak suatu organisasi atau daerah tujuan wisata mampu mengatasi suatu ‘krisis’ dan mengambil langkah tepat cepat agar ‘krisis’ yang sama tidak terulang kembali sehingga sehingga mampu menarik simpati publik. Hal ini karena gencarnya pemberitaan di media massa cetak maupun elektronik baik dalam maupun luar negeri yang memberikan perhatian terhadap suatu kejadian. Kasus perampokan yang terjadi di sebuah villa di Ubud tersebut diliput selama beberapa hari oleh hampir seluruh media massa yang ada di Bali dan juga beberapa media di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan dengan adanya teknologi informasi yang canggih juga bisa sampai ke luar negeri. Terlepas dari ‘esensi’ dari kejadian yang sebenarnya, publikasi yang terus menerus tersebut di satu sisi adalah hal yang sangat positif agar suatu organisasi/daerah tujuan wisata bisa lebih dikenal publik. Tentunya, sekali lagi, kejadian atau krisis tersebut mampu ditangani dengan sangat baik baik dalam waktu sekarang dan di masa yang akan datang tidak akan terulang lagi sehingga simpati publik akan bisa diraih dan mengembalikan citra positif bagi suatu organisasi.

* English and Public Relations Instructor
The Business Administration Department
Bali State Polytechnic, Bali, Indonesia.
(0361) 7986973, 0852 378 23698
dwicahaya_putra@yahoo.com

Who wants to be a PR Officer?

April 16, 2008 by dwicahaya

Who Wants to be a Public Relations Practitioner ?
Kadek Dwi Cahaya Putra, S.Pd., M.Sc. *
In Conjunction with Bali Travel News’ PR Simpatik Award

BALI TRAVEL NEWS with its mission to maintain the image of Bali as one of the best tourist destinations in the world has long realized the very important role of Public Relations (refers to humas in Indonesian Language) for Bali. Therefore, Bali based Public Relations practitioners are well considered by conducting the only in Bali for Public Relations Awards called Public Relations Simpatik. In relation to this, the following piece of writing is attempted to give a simple introduction of what actually Public Relations is and who are eligible to work in that industry.

Public Relations is a profession, an academic field of study and an industry. It has recently been one of the most popular and developed professions especially in tourism-related organizations such as hotels and tour and travels. We often see in the mass media a Public Relations representative appears to represent his or her organization. A Public Relations officer usually appears in the mass medias in relation to activities in his/or organization such as interesting program or important events. Moreover, when an organization is under crisis or having problem, it is also the Public Relations officer who is in duty to speak out about the case. When there is an incident in a hotel; a guest dies, for example, it is the Public Relations Officer who explained the situation to the public. Bali Island also realizes the importance role of Public Relations to re-build its image and reputation as one of the best tourist destinations after being bombarded by seemingly endless crisis such as terrorist bombs, avian flu, unstable politics condition, natural disasters and so forth. Public Relations has been widely applied as an effective communication tool in varied activities such as media campaign, international level events or competitions, foreign journalists site visit and international road shows in order to support the Bali Recovery Program.

The increased role of Public Relations for business especially tourism-related organizations has demanded more highly qualified individuals to fulfill the position. It could be seen that almost all hotels nowadays employee Public Relations staff or representatives with various different titles showing their specialization such as Public Relations, Guest Relations Officer, Special Event Coordinator, Public Affairs, Community Relations, Government Relations and others. Surprisingly, the Public Relations practitioners are mostly not Public Relations course graduates. They tend to come from generalist background such as marketing, journalist, psychology and foreign language. A research on the profile of Public Relations officers in big organizations throughout the Great Britain showed that one quarter of the respondents were from generalist background where 35% had a journalist background and 25% had a degree in language. The rest were from various backgrounds such as Pharmacy, Physiology and Chemistry. Most of the practitioners also came into the Public Relations by chance. This condition also happened in Bali as one of the world’s most visited tourist destinations. Dwi Cahaya (2006) who researched fifteen Bali-based Public Relations practitioners, mostly in hotels, found that only one has a Public Relations degree (The London School of Public Relations, Jakarta). The others are mostly from Economics and tourism-related field of study such as Food and Beverage, Hotel Management, Business Administration and even Architecture. Apart from the formal Public Relations-related course, this occupation has given a wide chance from other general field of study such as Economics, Hotel Management, Marketing, Foreign Language and so forth to work in Public Relations industry. In the United Kingdom, Public Relations is one of the top three career choices for graduates (the UK Graduate Career Survey, 2003). So, who wants to be a Public Relations practitioner?
When I interviewed a number of Public Relations practitioners in Bali-based organization, mostly hotels, for my thesis, they described it words by words and by mentioning the activities of Public Relations as follows: “relations between organization and its publics”, “image and reputation building”, “spoke-person”, ‘promotion’, “media”, “meeting people”, “party”, “telling positive things about an organization”, “social activities”, “promotion”, and “advertising”. They are all actually correct because Public Relations covers quite many roles and activities which is mostly to maintain the image of the organization among its public by having a good long term relationships.
Public Relations has been present for decades but, the role is becoming far more important for an organization because its goal is not only providing goods or services but also establishing a good reputation by building and maintaining a good relationship. The simplest definition of Public Relations is that it is “the management of communication between an organisation and its public” (Grunig and Hunt, 1984). While Cutlip et al. (2000; p.6) define PR as “the management function that identifies, establishes and maintains mutually beneficial relationships between an organisation and the various publics on whom its success or failure depends”. By “Public Relations” it is meant as communication within the organization or takes place in the organization- in or between departments, in or between subsidiaries, and between the organization and its external public such as local community, customers, government, suppliers, and investors.
It is also a bit confusing that one of Public Relations’ activities is considered as “promotion” or “marketing”. The definition of Public Relations as ‘promotion’ and ‘media’ is because Public Relations function has been used as a support for marketing activity in terms of ‘publicity’ aimed at media coverage to support sales. Public Relations actually plays a very important role in the organisations’ communication programs as supporting marketing of products and services as well as integrating the promotional mix.

Besides, Public Relations also refers to the image and reputation of a destination and an organization. This is because brand image playing a very significant role in the success of an organization along with the image of Bali. Therefore, the Public Relations is mainly aimed at maintaining the image and reputation of their organizations. As defined by CIPR, Public Relations practice is “the discipline concerned with the reputation of organizations (or products, services or individuals) with the aim of earning understanding and support” (Fawkes, 2004). “It’s all about reputation the result of what you do, what you say and what others say about you” (ibid.).
In order to have a more understanding of Public Relations, it is better to have a closer look of a Public Relations’ activities. Fawkes (2001) outlined the complete activities of a variety of Public Relations specialization along with the explanation and examples of what to produce accordingly. Examples of what Public Relations practitioners do

Public Relations Activity Explanation Examples
Internal Communication Communicating with employees in-house newsletter, suggestion box
Corporate PR Communicating on behalf of Annual reports, conferences, ethical whole organization, not good statements, visual identity, images or services.

Media Relations Communicating with journalists Press releases, photocalls, video
Specialists, editors from local, news releases, off-the record
National and international media briefings, press events.

Business to Business Communicating with other Exhibitions, trade events, newsletter
Organizations, e.g. suppliers,
Retailers.

Public Affairs Communicating with opinion formers, Presentations, briefings, private
e.g. local/national politicians, public speeches. Monitoring political environment.

Community Relations/ Communicating with local community, Exhibitions, presentations,
Corporate Social Responsibility Elected representatives, head teachers. Letters, meetings, sport activities,
And other sponsorships.

Investor Relations Communicating with financial newsletters, briefings, events
Organizations/individuals

Strategic Communication Identification&analysis of situation Researching, planning and execu-
Problem&solutions to further ting a campaign to improve
Organizational goals ethical reputation of organization.

Issues Management Monitoring political, social, economic Considering the effect of US eco-
And technological environment nomy and presidential campaign
Of UK organization.

Crisis Management Communicating clear messages in Dealing with media after major
In fast changing situation or rail crash on behalf of police,
Emergency. Hospital or local authority.

Copywriting Writing for different audiences to Press releases, newsletters,
High standard of literacy. Annual report.

Publication Management Overseeing print/media processes, leaflets, internal magazines,
Often using new technology. Websites.
Events Management Organisation of complex events, Annual Conferences, press
Exhibitions. Launch, trade shows.

Source: Fawkes (2001)

Entry Requirement
Now, what skills and knowledge are required to be able to work as a Public Relations officer? Public Relations industry welcomes highly competent individuals from any academic background who are always willing to learn new things because it requires skill, knowledge and expertise from all disciplines. There are generally some subjects which boost your career into Public Relations industry such as Public Relations, Journalism, Business Management, Marketing, Psychology, Politic and English (www.prospects.ac.uk). Other Public Relations professionals have joined the occupation by working their way up possibly via the secretarial route or by moving across areas such as journalism or marketing. a research conducted on what employers require from the Public Relations graduates or job searchers showed that Literacy is the primary skill required. They also ranked that the second most important skill is teamwork followed by problem solving, analytical thinking, research skills, IT skills and Numeracy. Furthermore, Public Relations Society of America (PRSA; 1999; www.prsa.org.) and Institute of Public Relations (2003) released a complete list of Port of Entry Recommendations on knowledge and skills for a Public Relations officer as follow:

Port of Entry Recommendations on the Knowledge and Skills of Public
Relations (Source: PRSA, 1999; Pritchard, et al, 2006)

Necessary Knowledge Includes Necessary Skills Include
Communication and PR theories Research methods and analysis
Societal trends Management of Information
Public Relations history Management of communication
Legal requirements and issues Problem solving and negotiation
Multicultural and global issues Strategic Planning
Participation in the professional PR community Issues Management
Working with a current issue Audience segmentation
Applying cross-cultural and cross-gender Informative and Persuasive Writing
Communication and persuasion concepts and strategies Community relations, consumer relations,
employee relations and other practice
areas.
Relationships and relationship building Technological and visual literacy
Ethical Issues Managing people, programmes and
Resources
Marketing and Finance Sensitive interpersonal communication
Use of research and forecasting Fluency in a foreign language.
Organisational change and development Ethical decision making
Message production
Public Speaking and presentation
Understanding of business Written and verbal communication
Corporate Strategy Creativity
Finance and Corporate Governance Media Relations
Data Analysis Crisis Management
Audience Research Issues Management
Management of resource and people Interpersonal Skills
Credibility and Integrity
Flexibility

Where Public Relations Work?
It is also important to understand where Public Relations work. Public Relations works in or for Public Relations firms, non-profit organization e.g. Charity, or for-profit organization such as private companies, universities, hospitals, high technology firms and so forth. A different place of work usually refers to different Public Relations titles as it represents their specialization. Public Relations who works for government agencies, for example, are usually called Public Information Officers, Information Officers, Public Affairs Specialists, Press Secretaries or Communication Specialists. A Public Relations who works for an event management company might be called Event Specialists and many others.
Public Relations practitioners usually work under three categorizations:

1. In-house (employed by an organization, whether a public or private company or a
public body, charity or non-governmental organization, NGO).
2. Consultancy (agency where practitioners work for one or more different clients for a
fee).
3. Freelance practitioners (where an individual works for himself and is employed by in-house departments or consultancies on a short-term contract basis either for a specific project or to fill in during peaks in demand or become staff absence requires additional resources.

Although works of Public Relations for the above categories seem the same they actually differ for some extent:

• In-house: get to know one organization in depth, work across wide range of Public Relations activities, from writing or editing house journal to arranging visits by or to MPs/opinion formers, etc. get to know a sector or industry well, e.g. music, motoring.

• Consultancy: work across many accounts, variety of clients, changing environment, may work in specialist area such as technology, finance or public affairs. Travel Works, Jari-Jari, Dish Publicity and PT Sagas Dinamik are some examples of Bali based Public Relations consultancy.

Who Wants to be a Public Relations Officer?
“Everybody can be a Public Relations”. This popular saying among practitioners is not meant to underestimate the role of formal education of Public Relations but to boost the motivation of individuals from a variety of field of study to be able to prepare him/herself getting into Public Relations industry. The point is having preparation of the above mentioned activities. The graduates or professionals willing to get into Public Relations industry may also need to prepare themselves such as work experience or volunteering in any events or activities which could boost your experience and self confidence. The following are some tips to prepare if you are interested in working as a Public Relations officer;

• Learn Foreign Languages. Eventhough English is still the most important and widely spoken language, mastery of other foreign languages is an advantage of working as a Public Relations. This is because the globalization era has resulted in the emergence of amazing countries as ‘new economic players’ such as Japan, China, Germany and Korea. Accordingly, understanding their languages is important in business. In countries with well established international business, Public Relations agencies demand proficiency in at least two foreign languages.

• Join Personality Improvement Courses. As a Public Relations officer mostly deals with people, either face to face or via telephone or internet, good personal and interpersonal skill is strongly required in order to give good impression towards the organization s/he works for. This could be done by joining personality courses such as Etiquette, Public Speaking and Public Manner.

• Join and write for Mass Media (Newspaper, Magazine)

As writing is one of the fundamentals skills a Public Relations practitioner must have, it should be improved by contributing to the mass medias such as newspaper, magazine, bulletin, leaflets, fliers etc. Joining a publication organization is also very useful to learn various parts of media and how it works. Media is the most powerful tool of Public Relations as a medium to gather information and to communicate the organization to the public. Public Relations then is very close with media. Do not forget to keep a record of what you have written or joined!

• Improve General Knowledge or of Related Field of Work.
Public Relations industry requires individuals with mastery of any related information particularly related with the project being conducted. A PR under project of Information technology, for example, should be well informed with IT related information. Therefore, mass media as a source of information is very important to deal with for the graduates looking for jobs in PR.

• Be active in organizations. It has been proved that those who used to join school or college based organizations are more successful in career than those who did not. School or college based organization are a perfect place for students to learn important skills and knowledge which later support their real jobs activities. As one of Public Relations activities is managing a special event, having experience in organizing is a useful skill to have. Organization is also a perfect place to learn other skills such as team work, event management, leaderships, self confidentiality, time and self management. Remember to keep a record of you have organized.

• Networking; taking part in societies and charity. Public Relations is relationships; how to build and maintain a mutual relationships with a variety of public. Therefore, a broad networking is highly required through which friends, clients, practitioners gather as a source of information and medium of communication for the purpose of the jobs.

* English and Public Relations Instructor
The Business Administration Department
Bali State Polytechnic, Bali, Indonesia.
(0361) 7986973, 0852 378 23698
dwicahaya_putra@yahoo.com

Darmasiswa RI dan Promosi Bali

April 16, 2008 by dwicahaya

Program Darmasiswa RI dan Promosi Pariwisata Bali
Kadek Dwi Cahaya Putra, S.Pd., M.Sc. *

Darmasiswa (Indonesian Scholarship) adalah program pemberian beasiswa oleh pemerintah RI bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa & budaya di perguruan tinggi di seluruh daerah di Indonesia selama 1 tahun. Bali sebagai salah provinsi dan daerah tujuan wisata utama Indonesia merupakan tempat pilihan utama peserta Darmasiswa dalam program tersebut. Berkaitan dengan upaya pemerintah untuk membangun reputasi Indonesia khususnya Bali di dunia internasional khususnya dalam menggalakan pariwisata, program ini sangat bermanfaat dalam mengkomunikasikan kondisi Bali secara nyata dalam mendukung kegiatan promosi pariwisata. Tantangan industri pariwisata adalah bagaimana menyiapkan suatu daerah dan objek tujuan wisata (internal) yang memadai dan mengkomunikasikannya sedemikian rupa ke dunia internasional (external) sehingga mereka menjadi tertarik dan datang ke Bali.

Berbicara mengenai reputasi (reputation) suatu bangsa atau daerah tujuan wisata tentu tidak bisa dilepas dari identitas (identity) dan citra (image). Identitas adalah what (how) we are (have) dan citra adalah bagaimana kita ingin dilihat oleh pihak oleh pihak ketiga yang dibangun melalui kegiatan komunikasi pemasaran atau lebih dikenal dengan promosi. Reputasi terbentuk dari penggabungan antara identitas dan citra. Identitas Bali adalah daerah tujuan wisata dengan pemandangan alam yang indah, penduduk yang ramah tamah, dan budaya yang unik dimana hal tersebut coba di-citrakan melalui berbagai kegiatan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Reputasi Bali akan terbentuk dengan baik apabila masyarakat luar sudah datang ke Bali dan melihat serta mengalami langsung seluruh identitas bangsa kita yang sudah di-citrakan melalui berbagai kegiatan promosi. Informasi-informasi yang tidak benar tentang Bali yang selama ini menyebar di seluruh dunia seperti serangan teroris, kerusuhan dan lain-lain akan segera termentahkan manakala masyarakat internasional sudah datang langsung ke Bali dan membuktikan bahwa Bali sudah aman dan berbenah ke arah yang lebih baik.

Darmasiswa pada dasarnya adalah sebuah strategi diplomasi internasional bertujuan untuk membangun reputasi positif Indonesia di dunia internasional dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat asing untuk lebih mengenal Indonesia melalui pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Sampai sekarang program yang digulirkan sejak tahun 1974 ini telah berhasil menarik minat 1857 mahasiswa asing dari 77 negara dan tahun ini diikuti oleh 548 mahasiswa asing dari 62 negara. Bali sendiri menerima 90 orang yang menyebar di Politeknik Negeri Bali (12 Orang), Universitas Udayana (13 Orang), Undiksha (4 Orang) , ISI Denpasar (57 Orang) dan IKIP Saraswati Tabanan (4 Orang).

Melihat jumlah mahasiswa asing peserta program yang cukup banyak dan sangat beragamnya asal negara mereka tentunya akan sangat bermanfaat sebagai upaya memberikan kesempatan melihat langsung keadaan Bali kepada semakin banyak masyarakat luar dan dari beragam negara. Kedatangan dan tinggalnya mereka di Bali tentunya sangat diharapkan akan menimbulkan kesan yang mendalam terhadap keadaan Bali yang sebenarnya. Mereka diharapkan bisa menikmati seluruh kekayaan dan pesona alam yang luar biasa, keaneka ragaman budaya dan adat istiadat, penduduk yang ramah tamah dan ragam bahasa daerah selain bahasa Indonesia. Dengan identitas-identitas tersebut di atas reputasi Bali di dunia internasional yang terutama sekali masih dikaitkan dengan aktivitas teroris tentunya secara perlahan-lahan bisa dihilangkan dan digantikan dengan pengalaman-pengalaman selama mereka tinggal di Bali. Pada akhirnya kepulangan mereka ke negara masing-masing akan membawa cerita tersendiri atau apa yang disebut dengan ‘mouth to mouth promotion’ dimana jenis promosi seperti ini biasanya sangat efektif dan lebih terpercaya karena bersumber dari orang-orang terpercaya yang datang langsung dan menyaksikan serta terlibat langsung dalam adat istiadat dan budaya Bali. Menyambut Tahun Kunjungan Wisata 2008 program ini bisa sebagai alternatif salah satu strategi promosi pariwisata yang efektif dalam meningkatkan minat wisatawan untuk mengunjungi Bali dan Indonesia pada umunya.

* English and Public Relations Instructor
also presently Heading the Darmasiswa Program
The Business Administration Department
Bali State Polytechnic, Bali, Indonesia.
(0361) 7986973, 0852 378 23698
dwicahaya_putra@yahoo.com

my cv

April 8, 2008 by dwicahaya

CURRICULUM VITAE

 

Objective

An experienced with-English and Public Relations-qualifications instructor

is looking for a part time position to develop any trainings and development programs of English, Indonesian Language, Public Relations and Integrated Marketing Communications.   

 

Personal Details

Name                            : Kadek Dwi Cahaya Putra, S.Pd., M.Sc.

Sex                                : Male

Place & date of Birth   : Singaraja, March 5th , 1977

Adress                          : Perum Taman Guntur Permai Blok B No. 4

                                        Jalan Gunung Guntur,  Denpasar – Bali.

Contact Number &

E-Mail                          : (0361) 7986973, 0852 378 23689.

                                        dwicahaya_putra@yahoo.com                     

 

Educations

1) Master of Science (M.Sc.) of Corporate Communication (2005-2006)

    Thames Valley University, London, UK (www.tvu.ac.uk).

    Modules:                                                                                                   

    Communication Management with Strategic Public Relations                         

    Corporate Advertising and Media Relations                                                            

    Integrated Marketing Communications                                                                     

    Presenting Information and Knowledge Management                                    

    Research Methods                                                                                                   

    Corporate Media Law                                                                                             

    International Communication; Image and Identity                                                      

 

    Project: Analyzing and Proposing a Communication Strategy for The Anglo

    Thai Foundation; a London-Thai based Charity. http://www.anglo-thai.org

    Dissertation: Public Relations in Bali’s Tourism Industry

 

2). Bachelor of Education (1995-2000)

     English Department of  STKIP Negeri Singaraja (Now is Undiksha)

 

 

Working Experience     :

2001-Present   :  Permanent Lecturer at the Business Administration

               Department of Politeknik Negeri Bali.

2001-Present   :  Freelance English Translator and Interpreter

2001-Present   :  Actively teach English for Various Purposes at different

               institutions both state and private such as:

1.      General English

2.      English for Academic Purposes: TOEFL, IELTS, TOEIC and English for Overseas Study.

3.      English for Specific Purposes (ESP):

1.      English for Hotel, Villa, Restaurant, Tour and Travel.

2.      English for Business (Business Correspondence)

3.      English for Cruise Lines

4.      English for Medical Professions (Doctors and Hospital: Nurses and Staff).

   Actively teach Bahasa Indonesia for Speakers of Other 

   Languages (BIPA)

2006-Present               : Start to develop myself on the field of Public Relations and

                                      Integrated Marketing Communications.

2000-2001                                     :  Part Time Lecturer at Ganesha Uni. Of Education, Singaraja.

2000-2001                                     :  Part Time English Instructor at Varied Institutions in

                           Singaraja.

 Positions:

 

1.      TPSDP Project Secretary of The Bali State Polytechnic’s Business Administration Department <2004-2005>.

2.      Head of Language and Audio Visual Laboratorium of The Bali State Polytechnic’s Business Administration Department <2006-present>.

3.      Head of Indonesia Darmasiswa Program of The Bali State Polytechnic’s <2007-

      Present>.

 

 Research

 

No

Title (Year)

Remarks

1

Improving the Ability of the English Department Students of STKIP Singaraja in Writing a Precis through Questions and Answers as a Pre-Writing Activity (2000)

Unpublished Bachelor Thesis

2

A Needs Analysis of English Required by Secretaries working at cargo companies in Badung Regency, Bali (2003)

PNB

3

English Self Directed Learning at The Business Department of Bali State Polytechnic (2004)

Research Grant

TPSDP

4

Questions and Answers as a Pre-Writing Activity as an attempt to improve the Writing Ability of Bali State Polytechnic’s Business Administration Department Students (2004) 

LPTK DIKTI

2004

5

 “Questions and Answers’ based on Series of Pictures to improve the Writing Ability of Bali State Polytechnic’s Business Administration Department Students (2004) 

Teaching Grant

TPSDP

6

Public Relations in Bali’s Tourism Industry (2006)

Master Thesis

 

7

Analyzing Bali’s Public Relations Tourism Strategy by using SWOT Analysis (2008)

PNB

 

Publications:

 

No

Title (Year)

 

Remarks

1

How to be a Public Relations Officer?

(2006)

Mandiri Magazine

Bali State Polytechnic

2

Public Relations: A Chance for the English Graduates?

(2007)

Lingua Scientia Journal

Uni. Pendidikan Ganesha, Singaraja.

3

Public Relations in Bali’s Tourism Industry (2007)

Journal of Economic and Business

Jakarta State Polytechnic

 

Seminar/Workshop Public Relations:

 

No

Title/Organizer

Remarks

 

1

Public Relations Workshop and Professions Certification

Bisnis Bali Newspaper, Denpasar

23rd of  January 2007

As the best participant

2

Seminar of Public Relations in Tourism Industry

D3 English Student Union

Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja 

 23 April 2007.

As a Speaker

 

 

 

MICE Related  Experiences:

 

  1. English <> Indonesian simultaneous interpreter at The Government of Indonesia Meeting with International Key Partners on Avian Influenza and Pandemic Preparedness.  Nikko Hotel, Bali, September  11th -12th , 2007.
  2. English <> Indonesian simultaneous interpreter at The 40th IAPC (International Association of Politic Consultants) World Annual Conference. Grand Hyaat Hotel, Bali. November  12th -14th 2007. 
  3. Note Taker at the UNFCC ( United Nations Framework on Climate

      Change). Bali. December 3rd – 14th  2007. (employed by Pacto Ltd.).

4. English <> Indonesian simultaneous interpreter at The American Society or Testing and Materials (ASTM) Marine Fuels for PT. Pertamina Indonesia at The Patra Bali Resort and Villas, Bali, 28th – 30th of May, 2008.

 

 

            Reference is available upon request

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

April 8, 2008 by dwicahaya

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!